Beranda Berita Polres Temukan Kasus Illegal Loging, Polres Tanimbar Gelar Konferensi Pers bersama Awak Media

Temukan Kasus Illegal Loging, Polres Tanimbar Gelar Konferensi Pers bersama Awak Media

10
0
BAGIKAN

Tribratanews.polrestanimbar.com – Polda Maluku, Polres Kepulauan Tanimbar, 2 kasus Illegal Loging yang ditemukan langsung petugas Polres dilapangan, dilakukan Konferensi Pers dipimpin langsung Kapolres AKBP Umar Wijaya, S.I.K., didampingi Kasat Reskrim Iptu Yogie Gultom, S.T.K., Jumat (17/06/2022), pukul 14.20 wit, diruang Vicon Polres.

Terhadap 2 (dua) kasus yang sama yang dirilis bersama Awak Media Tanimbar ini, yakni terhadap kasus pertama pada Selasa (14/06/2022), ditemukan langsung oleh personil Satuan Sabhara yang sementara berpatroli di Pelabuhan Yos Sudarso Saumlaki dan ditemukan 1 unit mobil Dump Truck warna hijau merah dengan nomor Polisi L 9159 NJ yang memuat kayu olahan jenis Merbau/besi dengan ukuran 6 cm x 12 cm 400 cm sebanyak 127 potong.

Terhadap Temuan itu, Kapolres menyampaikan ketika dicek oleh petugas terkait surat – surat berupa SKSHHKO, Sopir yang mengangkut kayu dimaksud tidak dapat menunjukannya sehingga barang bukti diamankan petugas di kantor Polres.

“Ketika dilakukan Pemeriksaan oleh petugas, Sopir yang mengangkut kayu dimaksud tidak dapat menunjukan dokumen berupa surat keterangan sahnya hasil hutan kayu olahan (SKSHHKO). Karena tidak dilengkapi dengan dokumen, maka kendaraan tersebut beserta muatannya langsung diamankan Petugas di Polres Tanimbar, kemudian dilakukan Pemeriksaan terhadap saksi – saksi maupun Sopir yang membawa kayu tersebut diantaranya Saksi 5 orang yaitu personil Polri yang bertugas, Buruh Pelabuhan yang menaikan / menurunkan kayu tersebut dan terhadap Saudara RMM yaitu Sopir yang mengangkut kayu tersebut”. Paparnya

Kemudian Pemen dua Melati ini juga memaparkan, dari hasil Pemeriksaan, kayu tersebut merupakan milik FR di desa Lauran yang direncanakan akan dibawa ke Kupang dengan menggunakan KM. Berkat Taloda.

“Dari hasil Pemeriksaan diketahui, kayu tersebut merupakan milik FR di desa Lauran yang mana kayu tersebut direncanakan akan dibawa ke Kupang dengan menggunakan KM. Berkat Taloda”. Katanya.

Sedangkan untuk kasus yang kedua, yang juga sama, dihari yang sama Selasa (14/06/2022), dari fungsi Operasional Sat Reskrim di lapangan juga kemudian mengamankan 1 unit Dump Truck warna kuning hijau dengan nomor Polisi DE 8697 E yang juga tidak dilengkapi dokumen, yang mengangkut kayu olahan jenis Lenggua dengan ukuran 4 cm x 25 cm x 300 cm sebanyak 140 potong yang menurut keterangan hasil pemeriksaan, kayu tersebut milik STG, sementara yang mengangkut / Sopir berinisial JM, yang mana atas dasar keterangannya, sebelumnya, dirinya sudah melakukan Pengangkutan pertama pada pukul 10.00 wit terhadap kayu olahan jenis Merbau / besi dengan ukuran 6 cm x 12 cm x 400 cm sebanyak 105 potong dan ukuran 4 cm x 25 cm x 400 cm sebanyak 20 lembar.

Untuk temuan kedua ini, tindakan Kepolisian yang juga dilakukan yakni ketika dicek dokumen, hal yang sama dengan temuan kasus pertama juga terjadi yakni, Sopir JM tidak dapat menunjukan dokumen lengkap sehingga barang bukti berupa kayu dan mobil dump truck tersebut juga turut diamankan di Polres.

Terhadap temuan kasus yang sama kedua ini, Penyidik Sat Reskrim Polres Tanimbar juga telah melakukan Pemeriksaan terhadap 3 orang saksi termasuk Sopir JM, hingga pada (15/06/2022) dilakukan Penangkapan dan Penahanan kepada saudara JM, dan pada hari Kamis (16/06/2022) juga telah dilakukan Pemeriksaan terhadap Terlapor pemilik kayu STG namun berdasarkan keterangan yang didukung oleh bukti Pemeriksaan STG sudah lanjut usia dan baru selesai menjalani operasi Tumor kemudian memiliki riwayat penyakit jantung sehingga STG belum dapat dilakukan Penahanan dikarenakan pertimbangan kondisi kesehatan yang bersangkutan.

Terhadap Kasus yang terjadi, Pimpinan Polres Tanimbar ini juga menjelaskan Pasal yang disangkakan kepada 3 orang tersangka kasus ini yakni RMM, FR dan JM.

“Terhadap ketiga Tersangka, Pasal yang disangkakan yakni, pasal 83 ayat (1) huruf (b) Undang-Undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengrusakan Hutan yang telah di ubah sebagaimana pasal 37 angka 13 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja dengan ancaman hukuman dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah)”. Pangkasnya.

Ketiga Tersangka kini telah mendekam di rutan Polres Tanimbar sambil menjalani Proses Penyidikan lebih lanjut oleh Sat Reskrim Polres Tanimbar.